Masuk

Ingat Saya

Problem Paradigma

Diluar perdebatan definisi terorisme yang “no global concencus” sampai saat ini, sejatinya terorisme adalah fenomena komplek yang lahir dari beragam faktor yang juga komplek. Ada faktor domestik seperti kesenjangan ekonomi (kemiskinan), ketidak-adilan, marginalisasi, kondisi politik dan pemerintahan, sikap represif rezim yang berkuasa, kondisi sosial yang sakit, dan faktor lain yang melekat dalam karakter kelompok dan budaya.

Ada faktor internasional seperti ketidak-adilan global, politik luar negeri yang arogan dari negera-negara kapitalis (AS), imperialisme fisik dan non fisik dari negara adidaya di dunia Islam, standar ganda dari negara superpower, dan sebuah potret tata hubungan dunia yang tidak berkembang sebagaimana mestinya (unipolar). Selain itu adanya realitas kultural terkait substansi atau simbolik dengan teks-teks ajaran agama yang dalam interpretasinya cukup variatif. Ketiga faktor tersebut kemudian bertemu dengan faktor-faktor situasional yang sering tidak dapat dikontrol dan diprediksi, akhirnya menjadi titik stimulan lahirnya aksi kekerasan ataupun terorisme.

Cukup masghul rasanya, ketika BNPT menarik kesimpulan akar terorisme adalah radikalisme atau ideologi radikal dan kelompok radikal sebagai habitatnya.Ini oversimplikasi, produk mindset yang tendensius terhadap Islam dan pengusungnya.Paradigma ini mengunci cara pandang BNPT dan Densus88 untuk menempatkan kelompok Islam sebagai ancaman dan label “teroris” disematkan kepada mereka. Sikap yang berbeda terhadap kelompok OPM (Organisasi Papua Merdeka), GAM di masa lalu, atau RMS di wilayah Maluku.

Radikal sendiri berasal dari kata ”radix” dalam bahasa Latin artinya ”akar”. Jika ada ungkapan ”gerakan radikal” maka artinya gerakan yang mengakar atau mendasar, yang bisa berarti positif (untuk kepentingan dan tujuan baik) atau negatif. Dalam Kamus, kata radikal memiliki arti; secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip), sikap politik amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan), maju dalam berpikir dan bertindak.(KBBI, ed-4, cet.I.2008). Dalam pengertian ini, hakikatnya sebuah sikap ”radikal” bisa tumbuh dalam entitas apapun, tidak mengenal agama, batas teritorial negara, ras, suku dan sekat lainya.

Namun dalam konteks isu terorisme, radikal pemaknaannya sangat stereotif, over simplikasi dan subyektif.”Radikal” sebuah label yang di lekatkan kepada individu atau kelompok muslim yang memiliki cara padang, sikap keberagamaan dan politik yang kontradiksi dengan mindstream yang ada. Atau dengan katagorisasi sebagai alat identifikasi versi BNPT, ”radikal” adalah orang atau kelompok jika memiliki prinsip-prinsip seperti; menghakimi orang yang tidak sepaham dengan pemikiranya, mengganti ideologi Pancasila dengan versi mereka, mengganti NKRI dengan Khilafah, gerakan mengubah negara bangsa menjadi negara agama, memperjuangkan formalisasi syariat dalam negara, menggangap Amerika Serikat sebagai biang kedzaliman global.

Definisi radikal diatas sangat bias, persis seperti dunia Barat menjelaskan konsep radikal secara simplistik, bahwa radikalisme banyak diasosiasikan dengan mereka yang berbeda pandangan secara ektrem dengan dunia Barat. (lihat laporan utama majalah Time ed 13 September 2004, setebal sembilan halaman menjelaskan konsep radikal menurut kacamata Barat). Hal ini sama biasnya ketika mendefinisakan ”terorisme”. Sebuah labelisasi kepada kelompok atau individu muslim yang secara fisik atau non fisik mengancam kepentingan global imperialisme Barat.Inilah problem paradigmatik “terorisme” di Indonesia. Cacat paradigmatik melahirkan blunder keputusan politik keamanan.
#DamaiDalamSumpahPemuda